Gelar Operasi Malam, Polrestabes Makassar Jaring 355 Kendaraan dan Sita Ratusan Knalpot Brong

​MAKASSAR | G T News.com — Satuan Lalu Lintas (Satlantas) Polrestabes Makassar merilis hasil Operasi Knalpot Bising (Brong) yang berlangsung sejak 26 Agustus hingga 4 September 2026. Dalam operasi penertiban tersebut, sebanyak 355 unit kendaraan berhasil diamankan akibat berbagai bentuk pelanggaran lalu lintas dan ketertiban umum.

​Kapolrestabes Makassar Kombes Pol. Arya Perdana, S.H., S.I.K., M.Si., menyampaikan langsung pengungkapan tersebut dalam konferensi pers di Polrestabes Makassar pada Senin (7/9/2026). Ratusan knalpot brong hasil sitaan turut diperlihatkan kepada awak media sebagai barang bukti.

​Operasi ini difokuskan pada malam hari untuk meminimalisasi perilaku negatif pengendara yang berpotensi mengganggu keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas).

​Rincian Hasil Operasi

  • ​174 Kendaraan: Pelanggaran spesifikasi teknis (termasuk penggunaan knalpot brong).
  • ​64 Kendaraan: Pelanggaran Tanda Nomor Kendaraan Bermotor (TNKB).
  • ​97 Kendaraan: Pelanggaran administrasi (kelengkapan SIM/STNK dan dokumen bermasalah).

​Selain pelanggaran lalu lintas, petugas menemukan barang bukti berupa busur dan anak panah yang diduga disiapkan untuk aksi tawuran atau kekerasan jalanan. Pihak kepolisian memastiikan belum menemukan indikasi kendaraan hasil tindak pidana pencurian (curanmor) dari total unit yang disita kali ini.

Kombes Pol. Arya Perdana menjelaskan bahwa penindakan ini merupakan respons cepat atas laporan masyarakat yang masuk melalui layanan Call Center 110 dan aplikasi pengaduan kepolisian, sekaligus menindaklanjuti instruksi Kapolda untuk menindak masif pelanggaran di jalan raya.

​Bagi pemilik kendaraan yang ingin mengambil kembali unit yang disita, diwajibkan memenuhi persyaratan teknis, mengembalikan kelengkapan standar kendaraan, serta menunjukkan dokumen kepemilikan yang sah sesuai prosedur hukum yang berlaku.(Hs)

Menjaga Demokrasi, Pers Tegaskan Peran Strategis sebagai Pilar Keempat dan Mitra Kritis Negara

JAKARTA — Dalam sistem demokrasi modern, pers memegang peran vital sebagai pilar keempat kekuasaan setelah eksekutif, legislatif, dan yudikatif. Keberadaan pers bukan sekadar saluran informasi, melainkan mekanisme kontrol sosial agar tata kelola pemerintahan tetap transparan, akuntabel, dan berpihak pada kepentingan rakyat.

Gagasan pers sebagai the fourth estate yang dijumpai sejak abad ke-18 oleh Edmund Burke menekankan pentingnya posisi media di luar kerangka kekuasaan formal. Independensi ini memungkinkan pers menjadi independen sekaligus penyeimbang antara penguasa dan masyarakat.

“Pers tidak bekerja berdasarkan instruksi jabatan maupun kepentingan politik tertentu. Orientasi utamanya adalah kepentingan publik. Media menjadi mata, telinga, sekaligus penyambung suara masyarakat, terutama bagi mereka yang tidak memiliki akses terhadap kekuasaan,” ujar seorang pengamat jurnalistik.

Fungsi Checks and Balances dan Pentingnya Kompetensi

Pers bertindak sebagai mitra kritis negara yang menjalankan fungsi checks and balances melalui kerja jurnalistik berbasis fakta, verifikasi, hingga riset investigatif. Di tengah derasnya arus informasi era digital yang rentan terhadap penyebaran hoaks, independensi pers harus dibentengi oleh kode etik dan tanggung jawab moral yang kuat.

Untuk menjaga kualitas pemberitaan di era modern, insan pers dituntut menguasai empat kompetensi utama:

  • Kemampuan Mengolah Informasi: Mampu menggali dan menyederhanakan data kompleks agar mudah dipahami publik.
  • Integritas dan Kebenaran: Menjunjung tinggi etika dan kejujuran di atas kepentingan politik atau komersial.
  • Wawasan Luas: Memiliki pemahaman lintas bidang untuk memberikan konteks berita yang mendalam.
  • Penguasaan Teknologi Digital: Memanfaatkan media digital untuk memperkuat kualitas informasi, bukan sekadar mengejar clicks atau jumlah pembaca.

Saling Menghargai demi Demokrasi yang Sehat

Hubungan ideal antara penyelenggara negara dan media massa didasari oleh sikap saling menghargai. Negara memerlukan pers sebagai cermin kebijakan, sementara pers membutuhkan keterbukaan informasi publik dari lembaga pemerintah.

“Kritik pers yang lahir dari fakta dan kepentingan publik justru menjadi instrumen koreksi yang berharga. Demokrasi yang sehat membutuhkan dialektika kritis, bukan pembungkaman. Hanya dengan negara yang akuntabel, masyarakat yang kritis, dan pers yang berintegritas, cita-cita bangsa yang adil dan sejahtera dapat terwujud,” tutupnya.

Informasi Kontak Media: Tim Redaksi / Hubungan Masyarakat Email: media@gerbangtimurnews.com Telepon: (+62 852-4441-6661)

Tim URC Satreskrim Polres Soppeng Bekuk Dua Pelajar Terduga Pelaku Pencurian di MTS Guppi Salotungo

SOPPENG | G T News.com  — Tim Unit Reaksi Cepat (URC) Satreskrim Polres Soppeng yang dipimpin AIPTU Jumaldi, S.E., berhasil mengamankan dua remaja terduga pelaku tindak pidana pencurian di MTS Guppi Salotungo, Kelurahan Lalabata Rilau, Kecamatan Lalabata, Kabupaten Soppeng.

​Penangkapan dilakukan pada Kamis (3/9/2026) sekitar pukul 17.00 WITA di Jalan Kesatria, Kelurahan Botto, Kecamatan Lalabata. Langkah hukum ini mendasari Laporan Polisi Nomor: LP/B/237/VIII/2026/SPKT/POLRES SOPPENG/POLDA SULSEL tertanggal 28 Agustus 2026.

​Kronologi Kejadian

​Pencurian terjadi pada Kamis (27/8/2026) sekitar pukul 22.00 WITA saat lingkungan sekolah sedang menggelar kegiatan perkemahan. Korban—dua siswa berusia 13 tahun—menitipkan telepon seluler milik mereka di ruang administrasi sekolah.

​Pelaku diduga masuk ke ruangan tersebut dengan cara merusak kunci pintu. Dari dalam ruangan, pelaku menggasak:

  • ​2 unit telepon seluler (HP)
  • ​2 buah tabung gas elpiji 3 kg

​Akibat insiden ini, korban mengalami kerugian yang ditaksir mencapai Rp5.000.000. Kejadian tersebut kemudian dilaporkan ke Mapolres Soppeng untuk penanganan lebih lanjut.

​Penangkapan dan Barang Bukti

​Berdasarkan hasil penyelidikan dan informasi lapangan, Tim URC Satreskrim melacak keberadaan para terduga pelaku di sebuah rumah di Jalan Kesatria, Kelurahan Botto. Petugas langsung mendatangi lokasi dan mengamankan dua remaja berinisial:

  • ​MAS (16): Pelajar, warga Kecamatan Lalabata
  • ​RA (17): Pelajar, warga Kecamatan Marioriwawo

​Dalam pemeriksaan awal, salah satu anak mengakui perbuatannya. Pencurian tersebut dilakukan dengan rencana menggadaikan barang hasil kejahatan demi memperoleh uang tunai.

​Petugas turut mengamankan barang bukti berupa:

  • ​1 unit HP merek Oppo A18 (warna hitam)
  • ​1 unit HP merek Oppo A6X (warna ungu)

​Penanganan Hukum

​Kasat Reskrim Polres Soppeng, IPTU Firman, S.H., M.H., membenarkan pengungkapan kasus tersebut. Saat ini, kedua terduga pelaku telah diamankan di Mapolres Soppeng untuk menjalani proses penyidikan lebih lanjut.

​Proses hukum akan disesuaikan dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku, termasuk penerapan aturan khusus mengenai sistem peradilan pidana anak. Polisi masih terus melakukan pendalaman guna menelusuri seluruh rangkaian kejadian serta barang bukti terkait.

(Hs/SorotSulsel)

Tragedi Berdarah Pasar Terong Pria di Makassar Tewas Ditikam Teman Sendiri Usai Makan Bersama

Makassar, GerbangTimurNews.com —Insiden berdarah menggegerkan warga di sekitar Pasar Terong, Kecamatan Bontoala, Makassar, Sulawesi Selatan, pada Minggu (30/8/2026) malam. Seorang pria berinisial AL (28) ditemukan tewas tergeletak dengan luka tikaman di depan sebuah ruko yang berlokasi dekat Jalan Bawakaraeng.

Lurah Tompo Balang, Muh Darmawansyah, mengonfirmasi bahwa korban merupakan penghuni indekos di lantai dua ruko tersebut selama kurang lebih dua bulan terakhir. Meski demikian, korban diketahui belum pernah melaporkan keberadaannya kepada pihak RT, RW, maupun kelurahan setempat.

Korban tewas seketika di teras ruko dan disambut isak tangis histeris keluarga yang tiba di lokasi kejadian.

Terduga pelaku penikaman berinisial D, yang tidak lain adalah teman dekat korban, telah berhasil diamankan oleh pihak Kepolisian Sektor (Polsek) Bontoala.

Menurut keterangan Darmawansyah, hubungan antara korban dan pelaku selama ini dikenal cukup akrab dan mereka bahkan sempat makan bakso bersama sebelum peristiwa penikaman terjadi.

Hingga saat ini, motif dan kronologi pasti bertikaian yang berujung maut tersebut masih dalam penyelidikan pihak berwajib. Tim personel Polsek Bontoala, unit INAFIS Polrestabes Makassar, serta Dokpol Biddokkes Polda Sulsel telah diturunkan ke lokasi untuk melakukan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) dan proses evakuasi korban.(*)

(asj/hs)

LBH Haros Kecam Penanganan Bullying di SMPN 3 Makassar: Korban Justru Dipaksa Pindah

𝐌𝐀𝐊𝐀𝐒𝐒𝐀𝐑 | 𝐆 𝐓 𝐍 — Penanganan dugaan kasus perundungan (bullying) di UPT SPF SMP Negeri 3 Makassar menjadi sorotan serius. Seorang siswi berinisial MSI (13), yang menurut keluarganya mengalami trauma berat hingga harus menjalani perawatan di RS CPI Makassar, justru disebut diminta mencari sekolah lain. Di sisi lain, keluarga mempertanyakan belum adanya tindakan yang dinilai setara terhadap anak-anak yang diduga terlibat dalam peristiwa tersebut.

Kasus tersebut kini memasuki tahap pendampingan setelah orang tua korban, Rahmawati Umar, A.Mk., secara resmi mengadukan perkara tersebut ke UPTD Perlindungan Perempuan dan Anak (UPTD PPA) Kota Makassar pada 4 Agustus 2026. Pengaduan tersebut telah teregister dengan Nomor Pengaduan: 2608112367, terkait dugaan Kekerasan Terhadap Anak (KTA) berupa kekerasan fisik dan psikis yang diduga terjadi di lingkungan sekolah. Dalam pengaduannya, keluarga meminta pendampingan terhadap korban yang hingga kini masih menjalani proses pemulihan.

Menurut keterangan orang tua, dugaan perundungan yang dialami anaknya mengakibatkan korban mengalami trauma berat yang berdampak pada kondisi psikologis dan kesehatannya hingga harus menjalani perawatan di RS CPI Makassar.

Menurut keterangan orang tua, peristiwa bermula pada 26 Juni 2026, ketika sebuah video yang diduga direkam oleh salah seorang teman sekolah korban beredar dan kemudian sampai ke Guru Bimbingan dan Konseling (BK).

Selanjutnya, pada 20 Juli 2026, orang tua korban mengaku dihubungi oleh wali kelas untuk datang ke sekolah bersama anaknya memenuhi panggilan Guru BK.

Namun, menurut keluarga, hasil dari proses tersebut justru berujung pada sanksi skorsing terhadap korban. Bahkan, keluarga menyebut pihak sekolah meminta agar anak mereka mencari sekolah lain.

Kondisi korban kemudian terus memburuk. Pada 22 Juli 2026, korban mulai mengalami gangguan kesehatan berupa naiknya asam lambung yang diduga dipicu tekanan psikologis. Empat hari kemudian, tepatnya 26 Juli 2026, korban harus menjalani perawatan di RS CPI Makassar.

Menurut keluarga, korban mengalami trauma berat, depresi, dan tekanan darah tinggi, sehingga hingga kini masih menjalani proses pemulihan medis dan psikologis.

Bagi keluarga, keputusan tersebut dinilai semakin memperberat beban psikologis korban. Mereka menilai anak yang diduga menjadi korban seharusnya memperoleh perlindungan, pendampingan, serta jaminan hak atas pendidikan, bukan justru diarahkan meninggalkan sekolah.

Sementara itu, menurut keterangan keluarga, seorang siswa berinisial AMAPR diduga turut terlibat dalam peristiwa tersebut. Keluarga juga mempertanyakan belum adanya tindakan terhadap pihak yang diduga merekam dan menyebarkan video hingga akhirnya tersebar.

Saat dimintai tanggapannya (4/8/26), Pemerhati Perempuan dan Anak sekaligus Ketua Tim Kuasa Hukum LBH Haros, ST. Fatimah, S.H., M.H., menilai apabila keterangan keluarga tersebut benar, maka penanganan yang dilakukan pihak sekolah perlu dievaluasi karena dinilai belum mencerminkan prinsip kepentingan terbaik bagi anak.

“Pihak sekolah dalam hal ini saya nilai tidak berlaku adil. Seharusnya bukan sanksi seperti itu yang diberikan kepada siswanya tanpa mempertimbangkan dampak terhadap masa depan dan hak pendidikannya. Secara otomatis anak tersebut akan kesulitan mencari sekolah pengganti karena adanya kekhawatiran muncul stigma negatif. Ketika nanti ditanya alasan pindah sekolah, sekalipun orang tua atau anak memberikan alasan lain, tetap ada kekhawatiran bahwa suatu saat persoalan ini akan terungkap dan stigma tersebut akan terus melekat pada diri anak,” ujar Fatimah.

Menurutnya, sekolah seharusnya mengumpulkan seluruh fakta dan bukti secara objektif, karena informasi yang diterima menunjukkan perkara tersebut tidak hanya melibatkan satu anak.

“Yang dibutuhkan adalah penyelesaian yang objektif berdasarkan fakta karena bukan hanya satu anak yang diduga terlibat. Hukuman yang berat seperti itu justru dapat membuat anak semakin tertekan, kehilangan rasa percaya diri, serta malu untuk bersosialisasi di lingkungan sekolah, keluarga, maupun tempat tinggalnya,” jelas Fatimah.

Lebih lanjut, Fatimah menegaskan bahwa apabila pihak sekolah tidak mampu menyelesaikan persoalan tersebut secara internal dengan mengedepankan kepentingan terbaik bagi anak, maka keluarga memiliki hak untuk menempuh upaya hukum sesuai ketentuan yang berlaku.

Saat dikonfirmasi awak media pada Selasa (4/8/2026), Kepala UPT SPF SMP Negeri 3 Makassar, Firman, S.Pd., M.Pd., memberikan klarifikasi melalui pesan singkat.

Saat diperlihatkan bukti percakapan antara pihak sekolah dan orang tua korban mengenai keputusan agar korban mencari sekolah lain, Firman membenarkan isi percakapan tersebut.

“Mencari sekolah. Iya Pak, ini langkah terakhir yang kami lakukan,” tulis Firman.

Firman juga menjelaskan bahwa peristiwa yang menjadi pokok persoalan terjadi sebelum dirinya menjabat sebagai Kepala UPT SPF SMP Negeri 3 Makassar.

“Tabe, kejadian ini sebelum saya di SMPN 3 Makassar. Kalau tidak salah sudah pernah ada pembinaan terhadap anaknya,” lanjutnya.

Saat ditanya apakah sekolah memiliki Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan (TPPK) atau mekanisme penanganan perundungan, Firman menjelaskan bahwa sekolah telah memiliki satuan tugas tersebut.

“Alhamdulillah ada Pak, langkah yang sudah dilakukan oleh sekolah bertahap dan terukur,” ujarnya.

Meski demikian, hingga berita ini diterbitkan, pihak sekolah belum menjelaskan secara rinci bentuk penanganan yang telah dilakukan oleh TPPK, hasil pemeriksaan terhadap seluruh anak yang diduga terlibat, bentuk pendampingan terhadap korban, maupun dasar pertimbangan yang melatarbelakangi keputusan agar korban mencari sekolah lain.

Kasus ini menjadi perhatian karena menyangkut hak anak atas perlindungan dan pendidikan yang aman. Dengan adanya pengaduan ke UPTD PPA Kota Makassar, keluarga berharap proses pendampingan berjalan maksimal dan seluruh fakta dapat diungkap secara objektif.

LBH Haros juga mendesak Dinas Pendidikan Kota Makassar untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap penanganan kasus tersebut, termasuk menilai apakah langkah yang diambil pihak sekolah telah sesuai dengan Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak dan Permendikbudristek Nomor 46 Tahun 2023 tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Satuan Pendidikan, yang menempatkan kepentingan terbaik bagi anak sebagai prinsip utama.

Kasus ini menjadi ujian bagi komitmen dunia pendidikan dalam memberikan perlindungan kepada peserta didik. Ketika dugaan kekerasan terjadi di lingkungan sekolah, penyelesaiannya tidak hanya dituntut menegakkan tata tertib, tetapi juga harus memastikan setiap kebijakan tetap menjamin hak anak atas perlindungan, pemulihan, dan keberlanjutan pendidikan.

Di tengah perbedaan pandangan antara keluarga dan pihak sekolah, publik kini menantikan langkah Dinas Pendidikan Kota Makassar dan UPTD PPA Kota Makassar untuk memastikan penanganan perkara dilakukan secara transparan, profesional, dan benar-benar mengedepankan kepentingan terbaik bagi anak, baik terhadap korban maupun anak-anak lain yang turut terlibat dalam perkara tersebut.

Redaksi membuka ruang hak jawab dan klarifikasi kepada seluruh pihak yang berkaitan dengan pemberitaan ini sesuai dengan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.

Kapolda Sulsel Pimpin Sertijab Pejabat Utama dan Kapolres Jajaran Serta Lantik Karolog dan Kapolresta Gowa

𝐌𝐀𝐊𝐀𝐒𝐒𝐀𝐑 | 𝐆 𝐓 𝐍 — Kapolda Sulawesi Selatan, Irjen Pol. Djuhandhani Rahardjo Puro, S.H., M.H., memimpin langsung Upacara Serah Terima Jabatan (Sertijab) para Pejabat Utama dan Kapolres jajaran Polda Sulsel, serta pelantikan Karolog dan Kapolresta Gowa Polda Sulsel. Kegiatan tersebut berlangsung khidmat di Aula Mappaoddang Mapolda Sulsel, Kamis (30/07/2026).

Dalam kegiatan tersebut, Kapolda Sulsel didampingi Ketua Bhayangkari Daerah Sulsel Ny. Upi Djuhandhani. Turut hadir Wakapolda Sulsel Brigjen Pol. Dr. Gidion Arif Setyawan, S.I.K., S.H., M.Hum., para Pejabat Utama Polda Sulsel, serta seluruh Kapolres jajaran Polda Sulsel.

Kapolda Sulsel menyampaikan bahwa mutasi dan rotasi jabatan di lingkungan Polri merupakan hal yang lumrah dan menjadi bagian dari dinamika organisasi. Selain sebagai bentuk pembinaan karier, rotasi jabatan juga bertujuan untuk meningkatkan kinerja serta memberikan penyegaran dalam pelaksanaan tugas guna menjaga stabilitas keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas).

Kapolda juga menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada para pejabat lama atas dedikasi dan pengabdian yang telah diberikan selama menjabat, khususnya dalam menjaga situasi kamtibmas di wilayah Sulawesi Selatan tetap aman dan kondusif. Kepada pejabat baru, Kapolda berharap agar segera menyesuaikan diri serta mampu melanjutkan dan meningkatkan kinerja satuan. Ia juga menekankan pentingnya meningkatkan sinergitas dengan TNI, pemerintah daerah, serta seluruh elemen masyarakat dalam pelaksanaan tugas kepolisian.

Adapun pejabat utama yang melaksanakan serah terima jabatan di antaranya jabatan Karoops Polda Sulsel dari Brigjen Pol. Bambang Widjanarko, S.I.K., M.Si., kepada Kombes Pol. Djoko Purnomo, S.I.K., M.H. Jabatan Dirintelkam Polda Sulsel dari Kombes Pol. Hajat Mabrur Bujangga, S.H., kepada Kombes Pol. Dulfi Muis, S.H., S.I.K., M.H., M.Han. Selanjutnya jabatan Dirpolairud dari Kombes Pol. Dr. Pitoyo Agung Yuwono, S.I.K., M.Hum., kepada Kombes Pol. Donny Charles Go, S.I.K., serta jabatan Dirsamapta dari Kombes Pol. Brury Soekotjo P., S.I.K., kepada Kombes Pol. Heri Sasangka, S.I.K.

Selain itu, jabatan Karumkit Bhayangkara Tk. II Makassar Biddokkes Polda Sulsel dari Kombes Pol. dr. Bambang Triambodo, Sp.B., diserahterimakan kepada Kombes Pol. dr. Agustini, Sp.PK., M.Kes.

Dok. Kapolda Sulawesi Selatan, Irjen Pol. Djuhandhani Rahardjo Puro, S.H., M.H., memimpin langsung Upacara Serah Terima Jabatan (Sertijab) para Pejabat Utama dan Kapolres jajaran Polda Sulsel.

Pada jajaran Kapolres, sejumlah pejabat juga melaksanakan serah terima jabatan, yakni Kapolres Bone dari AKBP Sugeng Setio Budhi, S.I.K., M.Tr.Opsla., kepada AKBP Astoto Budi Rahmantyo, S.H., S.I.K., M.H. Kapolres Takalar dari AKBP Supriadi Rahman, S.I.K., M.M., kepada AKBP Ginanjar Fitriadi, S.H., S.I.K. Kapolres Luwu dari AKBP Adnan Pandibu, S.H., S.I.K., kepada AKBP Andrias Nurcahyo Wibowo, S.H., S.I.K., M.Si.

Selanjutnya Kapolres Wajo dari AKBP Muhammad Rosid Ridho, S.I.K., kepada AKBP Douglas Mahendrajaya, S.H., S.I.K., M.I.K., M.Tr.Opsla. Kapolres Maros dari AKBP Douglas Mahendrajaya kepada AKBP Devi Sujana, S.H., S.I.K., M.H. Kapolres Bantaeng dari AKBP Nur Prasetyantoro Wira U., S.I.K., M.H., kepada AKBP Andi Mayasari Patongai, S.I.K., M.M.

Kemudian Kapolres Sidrap dari AKBP Dr. Fantry Taherong, S.H., S.I.K., M.H., kepada AKBP Indra Waspada Yuda, S.I.K., M.H. Kapolres Parepare dari AKBP Indra Waspada Yuda kepada AKBP Phunky Mahendra Borniawan, S.I.K., M.H., M.I.K. Kapolres Bulukumba dari AKBP Restu Wijayanto, S.I.K., kepada AKBP Stephanus Luckyto Andry Wicaksono, S.I.K., S.H., M.Si.

Kapolres Palopo dari AKBP Dedi Surya Dharma, S.H., S.I.K., M.M., kepada AKBP Arvin Hariyadi, S.I.K. Kapolres Toraja Utara dari AKBP Stephanus Luckyto Andry Wicaksono kepada AKBP Yoseph Adi Rakhmat Sudrajat, S.H., S.I.K., M.I.K. Kapolres Pangkep dari AKBP Muhammad Husni Ramli, S.I.K., M.M., M.Tr.Opsla., kepada AKBP Aditya Pradana, S.I.K., M.I.K.

Selanjutnya Kapolres Soppeng dari AKBP Aditya Pradana kepada AKBP Hari Budiyanto, S.H., S.I.K., M.H., serta Kapolres Enrekang dari AKBP Hari Budiyanto kepada AKBP Ketut Yoga Saputra, S.I.K. Sementara itu, jabatan Kapolresta Gowa dari AKBP Muhammad Aldy Sulaiman, S.I.K., M.Si., diserahterimakan kepada Kombes Pol. Dr. Muh. Yusuf Usman, S.H., S.I.K., M.T., CIPA.

Selain pelaksanaan sertijab, turut dilaksanakan pelantikan jabatan Karolog Polda Sulsel kepada Kombes Pol. Stefanus Satake Bayu Setianto, S.I.K., M.Si., serta pelantikan Kapolresta Gowa Polda Sulsel kepada Kombes Pol. Dr. Muh. Yusuf Usman, S.H., S.I.K., M.T., CIPA.

Upacara serah terima jabatan berlangsung dengan khidmat, tertib, dan penuh rasa kebersamaan. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan ramah tamah sebagai bentuk silaturahmi serta mempererat soliditas dan sinergitas antara pejabat lama dan pejabat baru di lingkungan Polda Sulawesi Selatan.

(mhs/hpg)

Terlibat Pencurian Kabel Tower, Residivis yang Sempat Kabur Berhasil Ditangkap Tim Gabungan di Jeneponto

GTN | Jeneponto – Tim Resmob Pegasus Polres Jeneponto bersama Tim Jatanras Polrestabes Makassar berhasil mengungkap kasus pencurian spesialis kabel Base Transceiver Station (BTS) atau tower jaringan. Seorang pria berinisial MULIADI Bin DG. EMPO (29) ditangkap di Lingkungan Ci’nong, Kelurahan Tonrokassi, Kecamatan Tamalatea, Kabupaten Jeneponto, Minggu (19/06/2026) dini hari.

Penangkapan pelaku merupakan hasil koordinasi intensif antara kepolisian setelah pelaku diketahui sempat melarikan diri dari tahanan Polsek Bontoala, Makassar.

Kasat Reskrim Polres Jeneponto, AKP NURMAN, S.H., M.H., mengungkapkan bahwa aksi pencurian tersebut terjadi pada 1 April 2026 lalu di Balang To’do, Desa Punagaya, Kecamatan Bangkala, Jeneponto. Pelaku yang merupakan seorang buruh, memanfaatkan pengetahuannya sebagai mantan pekerja pembangunan tower untuk melancarkan aksinya.

​”Pelaku memotong kabel RRU sebanyak 6 gulungan, kabel optik 6 gulungan (masing-masing sepanjang 70 meter), serta kabel AC sepanjang 7 meter. Akibat tindakan tersebut, pihak penyedia layanan jaringan mengalami kerugian materiel sekitar Rp24 juta,” jelas AKP Nurman.

Berdasarkan hasil interogasi, Muliadi mengaku nekat melakukan aksi pencurian tersebut guna memenuhi kebutuhan hidup keluarga serta untuk membiayai kebiasaan berjudi. Dalam aksinya, pelaku diduga tidak beroperasi sendirian. Ia mengaku dibantu oleh anggota keluarganya, yakni berinisial NASRIA (istri), serta dua pria berinisial ANUGRAH dan ACO.

Tidak hanya beraksi di Jeneponto, pelaku juga mengakui telah melakukan serangkaian aksi serupa, pencurian aki dan kabel tower, di beberapa kabupaten lainnya.

​Saat ini, terduga pelaku telah diserahkan kepada Tim Jatanras Polrestabes Makassar untuk proses hukum lebih lanjut. Pihak kepolisian masih terus melakukan pengembangan, termasuk memburu rekan pelaku yang terlibat dalam sindikat pencurian kabel tower ini.

Atas perbuatannya, tersangka dijerat dengan Pasal 479 Undang-Undang No. 1 Tahun 2023 tentang KUHP. Pihak kepolisian berkomitmen untuk menuntaskan penyidikan guna mengungkap keterlibatan pelaku lain dalam jaringan spesialis pencurian aset infrastruktur telekomunikasi ini.

Laporan : sijaya

Geger! Warga Tidung Temukan Perempuan Muda Asal Toraja Utara Tak Bernyawa di Kamar Kos

MAKASSAR — Warga di Jalan Tidung Mariolo Lorong 1, Kelurahan Tidung, Kecamatan Rappocini, Kota Makassar digegerkan dengan penemuan seorang wanita muda dalam kondisi tak bernyawa di dalam kamar kosnya, Rabu (13/5/2026).
‎
Korban diketahui berinisial KSR (24), seorang wanita asal Kabupaten Toraja Utara. Saat ditemukan, tubuh korban sudah dalam kondisi memprihatinkan. Badannya sudah membengkak dan mengeluarkan aroma tak sedap. Kuat dugaan korban telah meninggal dunia sejak beberapa hari lalu.
‎
Penemuan jasad korban pertama kali menghebohkan warga sekitar setelah muncul aroma menyengat dari arah kamar kos tersebut. Mereka yang curiga kemudian melakukan pengecekan sebelum akhirnya menemukan korban dalam kondisi mengenaskan.
‎
Kanit Reskrim Polsek Rappocini, Muh Ali Djras, membenarkan adanya penemuan mayat tersebut. Ia mengatakan korban ditemukan warga sekitar pukul 10.00 Wita.
‎
“Ditemukan tadi pagi, sekitar jam 10,” ujarnya saat dikonfirmasi BKM pada Rabu Malam.
‎
‎Menurutnya, saat ini pihak kepolisian masih melakukan penyelidikan untuk mengetahui penyebab pasti kematian korban. “Untuk saat ini masih lidik, kami masih mendalami apa penyebab kematiannya,” katanya.
‎
Ia juga mengungkapkan bahwa korban diketahui berstatus sebagai mahasiswi yang sambil bekerja di Kota Makassar. “Statusnya mahasiswi dan sambil bekerja,” tambahnya.
‎
Berdasarkan informasi yang dihimpun, setelah salat Dzuhur jenazah korban kemudian dievakuasi ke Rumah Sakit Bhayangkara Makassar untuk dilakukan autopsi.
‎
Hingga kini, pihak kepolisian masih melakukan penyelidikan lebih lanjut terkait penyebab kematian korban.(*)

(asj/hk)

Remaja 16 Tahun di Kab Takalar Jadi Korban Curas, Dipukul dan Dirampas hingga Dipaksa Buat Video Palsu

𝐓𝐀𝐊𝐀𝐋𝐀𝐑 | 𝐆 𝐓 𝐍 — Kasus dugaan tindak pidana pencurian dengan kekerasan (curas) yang disertai sejumlah tindakan kriminal lainnya mengejutkan masyarakat yang menimpa seorang remaja di wilayah Kabupaten Takalar.

Peristiwa itu terjadi di dusun Jempang Desa Parangmata dengan korban berinisial RS (16) Warga Desa Popo kecamatan Galesong Selatan saat dalam perjalanan menuju pasar malam bersama rekannya di wilayah Galesong Kota, pada Rabu 11 Maret 2026 saat malam hari.

Kronologis kejadian diungkapkan oleh ibu korban, Salasia, kepada awak media. Menurut Salasia, saat anaknya dan temannya berada di Jalan Jempang, mereka berhenti sejenak untuk memeriksa bensin motor.

Secara tiba-tiba, datanglah empat orang menggunakan dua sepeda motor yang langsung melakukan pemukulan terhadap korban. Kejadian ini kemudian berlanjut dengan aksi perampasan dan pembawaan korban ke lokasi lain.

“Kebetulan ini temannya sampai di situ, di jalan Jempang itu motornya berhenti periksa bensinnya. Tiba-tiba datang empat orang dengan menggunakan dua motor dan secara langsung memukul anakku,” ungkap Salasia kepada wartawan, Sabtu (14/03/2026).

Ia menambahkan, selanjutnya motor korban diambil, dan pelaku membawa RS(16) serta temannya ke tempat berbeda. Tiga orang terduga pelaku membawa RS ke Jalan Poros Limbung, sementara satu pelaku lain mengantar teman korban yang berinisial S ke sebuah kos-kosan di wilayah Galesong.

Para terduga pelaku ini menghadang korban dengan cara yang menakutkan dan diduga menggunakan modus mengaku sebagai anggota kepolisian.

Setelah berhasil menguasai situasi, para pelaku langsung merampas barang milik korban berupa sebuah handphone merek iPhone 11 Pro warna hijau.

Tidak puas hanya mengambil barang, para terduga pelaku juga melakukan kekerasan fisik dengan memukul bagian kepala RS, yang menyebabkan rasa sakit fisik dan ketakutan yang mendalam pada korban.

Setelah melakukan perampasan dan pemukulan, pelaku tidak langsung meninggalkan korban.

Mereka membawa RS (Korban) ke daerah Limbung yang sepi, kemudian kembali membawanya ke kos-kosan di Galesong tempat dimana teman korban disimpan.

Di lokasi ini, para pelaku melakukan tindakan yang jauh lebih merugikan dan memalukan, yaitu memaksa RS (16) untuk mengaku bahwa dirinya membawa narkoba, padahal hal tersebut tidak benar, serta memaksanya membuat video pengakuan palsu tersebut.

Setelah selesai membuat video paksaan itu, pelaku akhirnya menyuruh korban pulang. Namun, ketakutan korban tidak berakhir di situ.

Beberapa waktu kemudian, RS dihubungi kembali oleh para pelaku melalui pesan media sosial. Dalam pesan tersebut, mereka meminta sejumlah uang dengan ancaman mengerikan bahwa jika uang tidak disediakan, mereka akan datang dan menggerebek rumah korban, yang membuat seluruh keluarga merasa sangat terancam.

Akibat peristiwa ini, korban mengalami kerugian materiil yang diperkirakan mencapai Rp4.100.000, yang terdiri dari nilai handphone yang dirampas serta potensi uang yang diminta melalui pemerasan.

Selain kerugian materi, korban juga mengalami dampak psikologis berupa rasa takut yang berlebihan dan gangguan emosional. Atas kejadian ini, keluarga telah melaporkan kasus tersebut ke Polsek Galesong Selatan dengan Nomor LP/B/7/III/2026/SPKT pada 14 Maret 2026.

Saat dikonfirmasi, Kasat Reskrim Polres Takalar, AKP Hatta, S.H. menyatakan bahwa kasus ini saat ini masih dalam tahap penyelidikan dan pemeriksaan terhadap tujuh terduga pelaku.

“Masih penyelidikan, masih diperiksa,” ujar AKP Hatta.

Sementara itu, keluarga korban menyampaikan harapannya agar pihak kepolisian, khususnya Kapolres Takalar, dapat menindak tegas para pelaku.

“Kami keluarga korban berharap kepada Kapolres Takalar untuk menindak tegas para pelaku dan hukum seberat-beratnya,” harap Ibu korban.

(wir/mhs)

Tertib Administrasi, Polres Gowa Gelar Pemeriksaan Senpi dan Kartu Izin Personel

𝐆𝐎𝐖𝐀 | 𝐆 𝐓 𝐍 — Usai pelaksanaan apel pagi, Kasi Propam Polres Gowa AKP Abdul Wahab, S.H. bersama Kabag Logistik KOMPOL Syahyuddin, S.Sos., M.H. melaksanakan pemeriksaan senjata api (senpi) milik personel Polres Gowa dan jajaran Polsek, yang berlangsung di Lapangan Apel Griya Bhayangkara Polres Gowa, Senin (9/3/2026).

Pemeriksaan tersebut dilakukan sebagai langkah pengawasan dan pengendalian terhadap penggunaan senjata api dinas oleh anggota Polri agar tetap sesuai dengan aturan dan prosedur yang berlaku.

Dalam kegiatan itu, personel Propam melakukan pengecekan fisik senjata api sekaligus memeriksa masa berlaku kartu izin pemegang senpi yang dimiliki oleh masing-masing personel.

Kasi Propam AKP Abdul Wahab mengatakan bahwa pemeriksaan ini merupakan kegiatan rutin untuk memastikan seluruh personel yang memegang senjata api dinas telah memenuhi persyaratan administrasi serta memahami tanggung jawab dalam penggunaannya.

“Pemeriksaan ini bertujuan untuk memastikan bahwa senjata api dinas digunakan secara tertib dan sesuai prosedur. Selain itu, kami juga mengecek kelengkapan administrasi berupa kartu izin pemegang senpi agar masih berlaku,” ujarnya.

Ia menambahkan, pengawasan yang ketat terhadap penggunaan senjata api merupakan bagian dari upaya menjaga profesionalitas dan kedisiplinan personel Polri dalam melaksanakan tugas di lapangan.

Melalui kegiatan ini, diharapkan seluruh personel Polres Gowa dapat semakin disiplin dan bertanggung jawab dalam penggunaan senjata api dinas, sehingga dapat mencegah terjadinya penyalahgunaan serta tetap menjaga keamanan dalam pelaksanaan tugas kepolisian.

(mhs/hpg)

Tidak Ada Lagi Postingan yang Tersedia.

Tidak ada lagi halaman untuk dimuat.