Tenaga Medis yang Dirumahkan Unjuk Rasa di Depan Kediaman JK

9

Gerbangtimurnews, Makassar – Pemerintah saat ini tengah gencar melakukan percepatan penanganan penyebaran virus corona atau covid-19. Di tengah upaya itu, ternyata ada ratusan tenaga kesehatan (medis) di Makassar dirumahkan.

Mereka merupakan tenaga kesehatan yang selama ini bekerja di Rumah Sakit Islam (RSI) Faisal Makassar. Jumlahnya tidak sedikit, mencapai 157 orang. Ada di antara mereka merupakan tenaga kesehatan penanganan covid-19.

Merasa kebijakan pihak rumah sakit tidak adil, ratusan tenaga medis itu lalu melakukan aksi unjuk rasa. Kamis (02/07/2020) tadi, mereka menggelar aksi demonstrasi di beberapa titik.

Salah satunya, di depan kediaman mantan Wakil Presiden RI, Jusuf Kalla (JK), di Jalan Haji Bau Makassar.

Kepada awak media, Ketua Serikat Pekerja RSI Faisal, Irham Tompo mengaku, sengaja menggelar unjuk rasa di depan kediaman JK. Sebab, mantan wakil presiden itu, merupakan Dewan Pembina di rumah sakit terkait.

Selain itu, dia juga menyebut, aksi unjuk rasa juga digelar di depan Kantor Gubernur Sulsel, Jalan Urip Sumohardjo, Makassar.

Hanya saja, keinginannya untuk bertemu dengan Gubernur Sulsel, Nurdin Abdullah tidak terpenuhi.

“Kami hanya meminta keadilan saja. Ke mana harus kami meminta kalau bukan ke Pemerintah Provinsi Sulsel. Selaku pihak yang menangani persoalan ketenagakerjaan dan masalah tenaga medis covid-19,” tutur Irham Tompo.

Kendati begitu, Irham bilang, perwakilan Pemprov Sulsel berjanji akan menyelesaikan persoalan ketenagakerjaan tersebut.

“Tadi yang terima (aspirasi) bagian dewan pengawas Disnaker Provinsi Sulsel. Katanya, dia mau selesaikan secepatnya. Tadi, dia terima kami di depan kantor Gubernur, atas nama Ibu Andi Yulia,” beber Irham Tompo.

“Sikap dewan pengawas akan menindak lanjuti kasus perselisihan antara karyawan dan manajemen. Katanya dia akan sampaikan ke kepala dinas dan tindaki secepat mungkin,” lanjutnya.

Dalam aksinya, Irham Tompo membeberkan permasalahan yang di hadapi ratusan tenaga medis itu. Menuntut, agar upah 157 karyawan yang dirumahkan selama 10 hari sejak tanggal 6 Juni 2020, harus dibayarkan segera.

Menurut dia, ada hak-hak karyawan yang dikebiri. Upah mereka dipotong sebanyak 50 persen, juga tanpa kompromi.

‘’Karyawan juga dirumahkan tanpa melakukan musyawarah dengan pihak serikat. Begitu juga karyawan yang hamil. Mereka dirumahkan tanpa hak cuti,” ungkap Irham Tompo.

‘’Manajemen mengeluarkan SK merumahkan karyawan dengan alasan yang tidak jelas dan mengambang. Katanya akan dipanggil kembali bekerja tapi waktunya tidak ditentukan,” lanjut dia membeberkan.

Irham Tompo bahkan menyebut, selama dua tahun terakhir ini, jasa pelayanan tidak pernah dibayar. Bahkan gaji karyawan dan tenaga medis tidak sesuai upah minimum provinsi (UMP).

Permasalahan lainnya, kata Irham Tompo, terkait dana pinjaman Rp50 miliar. Dana itu, diketahui merupakan dana untuk pembangunan gedung rumah sakit.

“Kami juga meminta kepada Dewan Pengawas (Dewas) untuk mengaudit dana pinjaman dari bank sebesar Rp 50 miliar, dan meminta manajemen diganti,” tegasnya.

Masih soal dana bantuan itu. Ternyata, untuk membayar utang rumah sakit ke bank, harus mengorbankan hak-hak karyawan. Itu, melalui dana klaim BPJS Ketenagakerjaan karyawan.

‘’Soal dana pinjaman di bank yang Rp 50 M kami punya datanya,” sebut Irham Tompo.

Terakhir, Irham Tompo bilang, selama ini karyawan di RSI Faisal tidak punya jaminan ketenaga kerjaan. Pengangkatan karyawan pun tidak sesuai aturan.

Aksi unjuk rasa ini juga digelar di pertigaan Jalan AP Pettarani-Sultan Alauddin. (**)