PERBAIKAN GIZI BERKELANJUTAN MELALUI PENDEKATAN POSITIVE DEVIANCE DI MAKASSAR DAN MAMUJU

21

GERBANGTIMURNEWS

Makassar – Positive Deviance merupakan salah satu upaya dalam mendorong praktik pemberian makan dan perawatan bayi yang didasarkan pada praktik terbaik dalam kondisi terbatas.

Pada setiap populasi penduduk miskin selalu ditemukan sekelompok keluarga yang mampu bertahan hidup dengan baik dan membesarkan anaknya dengan kondisi yang sehat dan gizi baik.

Dasar dari kekuatan mereka adalah praktek pemberian makan, praktek perawatan, praktek kebersihan dan praktek pengobatan yang sangat sempurna untuk kondisi sosial ekonomi terbatas.

Potensi keberhasilan mereka adalah kekuatan atau modal sosial yang dapat didistribusikan kekeluarga lain disekitarnya.

Cara dan metode untuk mendistribusikan praktek terbaik inilah yang dikenal dengan pendekatan Positive Deviance atau istilah lain adalah model tungku (hearth model).

Pendekatan Positive Deviance dilakukan dalam rangka perbaikan gizi balita yang bertujuan memberikan arah dalam peletakan dasar kualitas sumber daya manusia yang unggul.

Intervensi sumber daya manusia yang diinisiasi oleh bidang kesehatan dan pendidikan telah menjadi komitmen global dan regional sebagai pendekatan paling sistemik untuk keluar dari keterbelakangan dan mewujudkan generasi penerus yang berkualitas.

Poltekkes Kemenkes Makassar sebagai salah satu Institusi Pendidikan Kesehatan di Kota Makassar telah mengimplementasikan kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat dengan judul “Perbaikan Gizi Berkelanjutan Melalui Pendekatan Positive Deviance Di Kota Makassar & Kabupaten Mamuju”.

Kegiatan tersebut wujud pengabdian kepada masyarakat sebagai salah satu implementasi Tri dharma Perguruan Tinggi, Kegiatan ini adalah kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat dengan Skema Pengembangan Program Desa Sehat (PPDS) yang berhasil lulus seleksi di Tingkat Pusat.

Selain itu merupakan wujud tanggung jawab sosial (Social Responsibility)  institusi atas perundang undangan yang mewajibkan semua badan usaha baik pemerintah maupun swasta memberikan kontribusi positif terhadap pemberdayaan masyarakat sekitarnya sesuai dengan tugas dan fungsi dalam pendidikan gizi dan kesehatan masyarakat.

Kegiatan ini dilaksanakan di Kota Makassar dan Kabupaten Mamuju bekerja sama dengan Poltekkes Kemenkes Mamuju, Pemerintah Kota Makassar dan Kabupaten Mamuju dengan melibatkan tenaga dosen, mahasiswa, alumni,tenaga Kesehatan, kader posyandu dan ibu balita di masing- masing wilayah sasaran kegiatan.

Untuk pelaksanaan di Kota Makassar berlangsung dari tanggal 27 Agustus 2020 – 10 september 2020 di wilayah kerja Puskesmas Tamalate sebanyak 6 titik lokasi, sedangkan di Kabupaten Mamuju dari tanggal 1 September – 6 Oktober 2020 di wilayah kerja Puskesmas Bambu Kabupaten Mamuju Sulawesi Barat sebanyak 6 titik.

Adapun tahapan pelaksanaan Positive Deviance dilaksanakan dalam sembilan langkah mulai dari kelayakan lokasi sampai pada tahapan pelaksanaan pembinaan gizi kepada kelompok sasaran dan evaluasi akhir pencapaian pelaksanaan Positive Deviance.

Setiap lokasi didampingi oleh 1 (satu) orang fasilitator dengan 10 orang ibu balita sebagai kelompok sasaran.

Jadi jumlah seluruh sasaran balita untuk Kota Makassar sebanyak 60 sasaran balita begitu pula dengan Kabupaten Mamuju sebanyak 60 sasaran balita.

Dari kegiatan ini diharapkan dapat memberikan nilai tambah (added Value), terhadap pengabdian masyarakat berkelanjutan sebagai data base pemberdayaan gizi masyarakat untuk kepentingan kajian dan kasus gizi masyarakat dan dalam pengembangan program gizi perlu pendekatan berbasis bukti, sehingga Positive Deviance ini sangat membantu menyediakan pengalaman nyata implementasi berbasis pemberdayaan.

Adapun hasil pelaksanaan pengabdian masyarakat Positive Deviance (PD) yang dilakukan di Kota Makassar dan Mamuju selama 36 hari, memperlihatkan hasil bahwa di Kota Makassar tingkat keberhasilan mencapai 73,3%.

Ini adalah persentase sasaran yang mencapai Kenaikan Berat Badan Minimum (KBM), Pada sisi lain ada yang mengalami penambahan berat badan akan tetapi tidak mencapai KBM sebanyak 3,3%.

Ini membuktikan bahwa masih harus dilakukan pembinaan lanjutan dan penelusuran lebihs pesifik dalam kenaikan berat badan.

Persentase keberhasilan di Kota Mamuju mencapai 64,2% lebih rendah dibandingkan hasil di Kota Makassar, Sasaran yang mengalami penambahan berat  badan tetapi tidak mencapai  KBM adalah 13.3.

Secara keseluruhan Positive Deviance di kedua kota memiliki keberhasilan 64,2% mencapai KBM, dan naik berat badan tetapi tidak mencapai KBM adalah 8,3%. Oleh karena itu sangat dibutuhkan keberlanjutan dan perluasan kegiatan Positive Deviance pada lokasi berdekatan dengan kegiatan tahap pertama baik di Kota Makassar maupun di Kota Mamuju untuk memastikan perbaikan status gizi berkelanjutan.(*/Lutfy)

Penulis : Lutfy (Rud ) l Editor : Dhani Naba

Gertim News



Baca Juga : kpk-tetapkan-mensos-juliari-p-batubara-tersangka-kasus-dugaan-suap-bansos-covid-19/