Menjelang Natal dan Tahun Baru 2020 Harga Ayam Melonjak di Pasar Laino Raha – Sulawesi Tenggara

4

GERBANGTIMURNEWS

RAHA – Menjelang Natal 25 Desember 2020 dan Tahun Baru 1 Januari 2021, harga daging ayam dan kebutuhan pokok lainnya di Pasar Laino Raha-Sulawesi Tenggara mengalami lonjakan kenaikan yang cukup tinggi.

Pada hari-hari normal, harga ayam kampung per ekor mencapai Rp 80.000, sepekan terakhir mengalami lonjakan Rp 120.000 per ekor.

Demikian ditegaskan salah seorang pedagang ayam di Pasar Laino Raha,
H. Andi Aman Tabah, kepada media Ahad (13/12/2020).

Dijelaskan, harga ayam potong juga mengalami lonjakan harga dari harga normal Rp 60.000, per ekor kini mencapai Rp.85.000, atau mengalami kenaikan Rp 25.000′-.

Menjelang tahun baru 2020, stok ayam mengalami penurunan dari peternak. Stok jualan ayam Andi Aman disuplai dari pedagang dari Kota Kendari.

Kenaikan harga ayam karena stok mulai berkurang dari peternak, sedangkan permintaan mengalami peningkatan, katanya.

Kenaikan harga ayam itu mulai terasa satu pekan lalu, selaku penjual eceran tidak bisa berbuat apa apa. Para pelanggan mengeluh tetapi mau bagaimana lagi kondisinya memang seperti ini, katanya.

Salah seorang pembeli ayam di pasar itu, Mas Parjito yang juga pengusaha rumah makan mengatakan, pihaknya tidak menaikkan harga masakan olahannya, melainkan menyiasati dengan mengurangi porsi penggunaan daging ayam, katanya.

Kenaikan ini tentu sedikit banyak berdampak kepada pengusaha makanan, tapi saya tidak
menaikan harga melainkan mengakali porsi daging dalam menu yang disajikan, katanya.

Sengaja tidak menaikan harga karena takut nanti pelanggan bisa lari, ucap Any salah seoreng penjual makanan di Raha.

Namun apabila harga daging kian mahal, pihaknya mungkin akan menaikan harga jual makanan menyesuaikan lonjakan harga kebutuhan sehari hari.

Harapan para pembeli harga daging dan kebutuhan pokok lainnya segera stabil atau menurun karena berdampak pada usaha lain terutama pengusaha makanan.

Masyarakat Raha berharap agar harga daging ayam potong kembali normal, karena tradisi di Raha ayam potong tidak dijual perkilo, melainkan perekor. Sehingga ukuran ayam besar maupun kecil akan tetap dihitung harga perekor. (Ara).

Laporan: Andi Rabia Adawia

Editor : Fakhruddin / Dhani Naba

Gertim News