Forest Program IV Untuk DAS Kabupaten Mamasa

123

GERBANGTIMURNEWS.COM

MAMASA – Kementerian Lingkungan Hidup Dan Kehutanan melalui kerjasama Kepala Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPDAS) Jeneberang-Saddang Muh. Tahir, SP, M.Si ke salah satu negara yang terkenal akan kecintaan dan kepeduliannya terhadap ekosistem hutan lindung diseluruh Dunia, yaitu negara Jerman, Kawasan Produktif Hutan Lindung (KPHL) wilayah Mamasa Tengah Kecamatan Sumarorong menyelenggarakan kegiatan Focus Group Discussion (FGD) yang deberi nama FOREST PROGRAM IV mengenai Daerah Aliran Sungai (DAS) Kabupaten Mamasa Tahun 2020 yang diselenggarakan di Aula Kantor Kehutanan, Kecamatan Sumarorong Sabtu, 7/11/2020.

Forest Program IV ini dilatar belakangi akan adanya rencana rehabilitasi dan perluasan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Bakaru Sulawesi Selatan, yang disebut “Proyek Bakaru II”. Kegiatan ini juga dilaksanakan atas dasar Peraturan Menteri LHK Nomor P.79/MENLHK/SETJEN/OTL.0/1/2016, tentang organisasi dan tata kerja unit pelaksana teknis pengelolaan daerah aliran sungai dan hutan lindung. Didalam pertemuan ini, dihadiri oleh Kepala Balai Sulawesi Selatan, Muh.Tahir, SP, M.Si, yang sekaligus membuka kegiatan secara resmi.

Turut hadir Konsultan Forest Program IV (UNISMU MAKASSAR) NAUFAL dan AZIS yang sekaligus sebagai pemateri. Penyuluh KPH Mamasa Tengah, Palalunan, S.Hut yang juga sekaligus mewakili Kepala KPH Mamasa Tengah Nugroho Santoso, S.Hut, M.Si. Kepala Kelurahan Tabone, Guntur Allo, SP serta seluruh peserta diskusi Forest Program IV.

“Melalui lobih dan kerjasama yang baik, sehingga bantuan dari negara Jerman bisa kita dapatkan. Oleh karena itu, kegiatan ini dapat dilaksanakan dan akan terus berkelanjutan, karena DAS Kabupaten Mamasa sangat berpengaruh besar terhadap PLTA Bakaru, terkhusus dalam program Bakaru II kedepan ini”. Jelas Muh. Tahir, SP, M.Si.

Kepala Balai DAS Jeneberang-Saddang dalam sambutan singkatnya, menyebutkan ada beberapa wilayah KPH, yaitu KPH Mamasa Timur, Mamasa Tengah, dan KPH Sawitto. Dari 3 KPH tersebut didalamnya terdapat beberapa titik objek wisata dan juga Taman Nasional.

KPH Mamasa Timur dengan Taman Nasional Gandang Dewata, dan sudah tercatat dengan rapi di negara Jerman sebagai salah satu Icon Nasional Negara Indonesia, khususnya Kabupaten Mamasa. Oleh karena itu, kita harus melindungi serta tetap menjaga bantaran pegunungan/hutan lindung yang ada di wilayah Kabupaten Mamasa agar ekosistem alam tetap stabil dan DAS juga tetap memberikan debit air yang stabil pula. Tutur Kepala Balai, Muh. Tahir.

Kepala Balai juga menegaskan, agar kegiatan ini jangan dihuni oleh kelompok tani dadakan atau jadi-jadian. Selesai kegiatan, bubar. Lanjutnya, jika ada kelompok tani/masyarakat yang sudah terlanjur masuk kawasan hutan lindung untuk bertani itu tidak masalah yang jelas jangan merubah fungsi area serta tidak melakukan perluasan lahan dengan sistem tebang habis, dan jangan mengelola lokasi diluar dari kemampuan, apalagi untuk mensertifikatkan lokasi tersebut.

“Kurangi dan sebisa mungkin kita menghindari penebangan area hutan lindung, Dalam mengelola hutan lindung untuk menjadi hutan produksi, diharapkan masyarakat dapat memilih tanaman yang benar-benar cocok agar bisa berhasil”.

”Diharapkan tetap berkonsultasi dengan penyuluh KPH sehingga tidak salah memilih jenis tanaman yang sesuai dengan posisi ketinggian Dari Permukaan Laut (DPL), Jika hal ini benar-benar diperhatikan dan dilakukan, yakin bahwa hutan lindung produktif akan membuahkan hasil dan tidak menggangu ekosistem DAS yang ada. Perlu diketahui bahwa Kabupaten Mamasa sudah tercatat di negara Jerman sebagai salah satu wilayah yang memiliki sumber air sungai terbanyak untuk pemanfaatan PLTA Bakaru sebagai sumber energi untuk kehidupan banyak orang”. Terang Kepala Balai, Muh. Tahir, SP, M.Si.

Didalam kegiatan inti, 2 pemateri memberikan begitu banyak pengetahuan tentang pentingnya memelihara dan bagaimana cara mengelola kawasan hutan lindung agar bisa menjadi produktif tetapi tidak merusak ekosistem wilayah hutan yang terbentang disepanjang DAS Kabupaten Mamasa.

“Mengelola hutan lindung harus sesuai dengan aturan, jangan sekarang tanam kopi, tahun depan tanam alpokat atau tanam jagung karena lahannya sudah jelas dikelola dengan cara merusak Alam (tebang habis-bakar) bukan berarti dilarang bercocok tanam jagung, tetapi diusahakan untuk diluar kawasan, Jangan juga kita kembali menerapkan sistem berkebun tradisional orang tua kita, yang misalnya hanya memiliki 1 hamparan lokasi tetapi jenis tanaman yang beragam, sudah ada beberapa jenis tanaman yang ditanam dan bahkan puluhan macam tanaman didalam 1 kebun”. Tegas pemateri I, Naufal.

Sambung pemateri II, “Diharapkan kelompok tani/masyarakat dapat mengidentifikasi jenis tanaman yang benar-benar cocok dengan keadaan lahannya masing-masing, jenis tanaman harus dipilih secara bersama-sama dalam kelompok melalui bimbingan penyuluh KPH dengan mempertimbangkan letak serta ketinggian (DPL) di setiap lokasi yang dipilih, Jika pemilihan jenis tanaman sudah sesuai dengan lokasi, perawatannya juga tetap mengikuti prosedur yang ada, yakin masyarakat/petani pasti akan berhasil tanpa harus merusak kawasan hutan lindung”. Harap pemateri II Azis.

Kegiatan ini diikuti kurang lebih dari 40 peserta yang tergabung dari beberapa perwakilan kelompok tani yang ada di Kabupaten Mamasa khususnya Kecamatan Sumarorong lingkup Kelurahan Tabone serta beberapa perwakilan kelompok tani dari Kecamatan Balla Tumuka yang juga berada dibawah naungan KPH wilayah Mamasa Tengah.

Palalunan, S.Hut (Penyuluh KPH Mamasa Tengah) mewakili masyarakat Mamasa pada umumnya, terkhusus untuk 40 Desa yang memiliki beberapa kelompok tani binaannya, menyampaikan terimakasih kepada MENLHK bersama Kepala Balai atas upaya yang sudah dilakukan untuk melobi negara Jerman sehingga program ini dapat terselenggara, dan semoga kegiatan ini dapat berkelanjutan dengan bantuan kerjasama dari seluruh lapisan masyarakat Mamasa sehingga nantinya bisa membuahkan hasil untuk kita nikmati bersama-sama. Harap penyuluh KPH Mamasa Tengah.

“40 Desa yang tercover didalam kawasan KPH Mamasa Tengah ini akan terus dibimbing dalam setiap kegiatan yang mereka lakukan, mulai dari cara pemilihan dan pengolahan lahan yang benar, pemilihan jenis tanaman, hingga perawatan tanaman nantinya. Tanaman yang akan ditanam harus benar-benar cocok dengan lokasi sesuai letak geografis atau ketinggian (DPL) daerah masing-masing. Mereka juga akan diberikan bantuan bibit sesuai permintaan masing-masing kelompok tani, bibit tersebut nantinya akan disediakan oleh pihak ketiga yang khusus membidangi hal itu. Jelas Kepala Balai saat dijumpai di lokasi kegiatan. Lanjutnya, Harapan saya semoga masyarakat Kabupaten Mamasa dapat menyambut serta menerima dengan sebaik mungkin akan adanya Forest Program IV ini, agar masyarakat Kabupaten Mamasa tidak menjadi penonton ketika kegiatan ini sudah berjalan dengan baik”. Tutup Kepala Balai, Muh. Tahir, SP, M.Si.

Editor : Andi Rusli