Diduga Pihak Kampus Al-Amanah Jeneponto Lakukan Pemotongan Dana Beasiswa Bidik Misi.

600

GERBANGTIMURNEWS.COM-JENEPONTO: Institut agama islam Al-Amanah Jeneponto yang mempunyai tugas pokok menyelenggarakan pendidikan akademik dan profesional pada jenjang pendidikan tinggi dalam bidang pendidikan, merupakan salah satu perguruan tinggi yang cukup terpandang dan ternama di bumi Turatea, Kamis 12/08/21.

 

Namun saat ini, sekolah tinggi itu ibarat diterpa badai dengan munculnya protes dan kritik dari mahasiswa akibat sejumlah kebijakan yang dikeluarkan oleh pihak kampus dinilai sangat keliru.

 

Salah seorang mahasiswa penerima dana beasiswa BIDIKMISI di kampus itu mengungkapkan rasa kekecewaannya dan protes pada pihak kampus yang melakukan penyunatan beasiswanya.

 

Menurut korban yang berinisial SR selaku penerima beasiswa saat ditemui pihak media mengungkapkan bahwa, yang dia harus terima sebesar Rp4.200.000, per semester tetapi pihak kampus potong Rp1.500.000 sehingga yang saya terima hanya Rp2.500.000,”kata SR

 

“Jadi begini pak awalnya, yang saya tau bahwa pemotongan itu hanya satu kali sehingga kami dari 10 orang penerima beasiswa bidikmisi sepakat, namun sudah enam kali kami terima pihak kampus terus lakukan pemotongan.

 

Hironisnya lagi salah satu mahasiswa di kampus Al-Amanah Jeneponto yang di keluarkan oleh pihak kampus secara sepihak,

 

Usman Maulana selaku mahasiswa Al-Amanah yang di keluarkan oleh pihak kampus secara pihak mengatakan bahwa, saya tidak terima atas DROP OUT (D.O) yang di keluarkan oleh pihak kampus,”ucap Usman

 

“Dan masalah saya di keluarkan selaku mahasiswa di kampus Al-Amanah Jeneponto hanya karena alasan rambut saya panjang (Gonrong) itu alasan pihak kampus sehingga saya di keluarkan.

 

Lanjut Usman, dan kenapa pihak kampus tidak mengeluarkan surat peringatan saja atau diskorsin saja karena saya rasa apa yang di ambil oleh pihak kampus ini sangat keliru,”ujarnya

 

“Ini bentuk pembantaian atau pengkebirian kebebasan berpendapat yang dilindungi undang-undang seperti UU No. 9 Tahun 1998.

 

Saat awak media mencoba untuk lakukan konfirmasi ke pihak kampus Al-Amanah Jeneponto melalui via telefon dia mengatakan bahwa kebijakan itu sudah tidak bisa ditolelir lagi.

 

Laporan: Tim Media