Bertahan di IMM Karena Semangat Dakwah di Kalangan Mahasiswa

59

GERBANGTIMURNEWS

MAKASSAR – Motivasi terbesar sehingga dapat bertahan di Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) sampai saat ini, yakni semangat dakwah terutama di kalangan mahasiswa karena salah satu gerakan Muhammadiyah yaitu gerakan dakwah amar ma’ruf nahi munkar.

Demikian ditegaskan Ketua Bidang Tabligh dan Kajian Keislaman IMM FKIP Unismuh Makassar 2019-2020, Muzakkir kepada media akhir Desember 2020.

Dijelaskan, langkah IMM untuk tetap eksis bersaing dengan organisasi kampus lainnya, yaitu dengan menjaga tri kompetensi IMM yaitu religiusitas, intelektualitas, dan humanitas sebagai identitas gerakan, kata mahasiswa Pendidikan Sosiologi FKIP Unismuh Makassar ini.

Strategi IMM dalam merekrut anggota yaitu dengan memperkenalkan lebih awal tentang IMM ke mahasiswa baru agar mereka tertarik baik itu melalui brosur IMM, memanfaatkan media, atau Orientasi IMM saat penyambutan mahasiswa baru di kampus, katanya.

Perkembangan IMM selalu mengalami peningkatan dari waktu ke waktu baik itu di tingkat komisariat maupun di tingkat cabang tinggal bagaimana kita untuk mempertahankannya.

Kalau minat ber-IMM mahasiswa di kampus terutama di Unismuh Makassar sangat antusias dibuktikan ketika kami membuka pendaftaran selalu full koutanya, kata alumni
SMA Negeri 3 Sinjai ini.

Alasannya bergabung di IMM pada awalnya dia tidak tahu dan seperti apa itu IMM, tapi setelah mengikuti DAD sebagai salah satu perkaderannya dia mulai tertarik terutama pengembangan keilmuan dan belajar mengaji bersama.

Program kerja IMM itu sendiri sangat banyak karena semua bidang memiliki program kerja, kalau program kerja rutinnya yaitu kajian keilmuan, Baitul Qur’an dan kajian Tarjih, kata pengurus
HMJ Pendidikan Sosiologi FKIP Unismuh Makassar ini.

Menggerakkan roda organisasi, pendanaan IMM kegiatannya selama ini bersumber dari kreatifitas panitia pelaksana di antaranya penggalangan dana, proposal dan kadang ada sumbangsih dari senior.

Selama ini dalam menjalankan program kerja tidak terlalu menemui kendala hanya biasa kendala teknis di lapangan, ungkap pria kelahiran Sinjai, 21 Mei 1998. (*)

Laporan: Ahmad Jamil
(Mahasiswa Komunikasi Penyiaran Islam Unismuh Makassar)

Editor : Fakhruddin / Dhani Naba